ALT_IMG

Gunung Nona di Kab.Enrekang

Eksotic Mount, itulah yang dikenal didunia internasional, pesona yang berbeda dan unik. itulah Buttu Kabobong yang terletak di Kab. EnrekangReadmore...

ALT_IMG

BAMBAPUANG di Kab. Enrekang

Pesona Bambapuang menjadi tantangan menarik bagi para penikmat wisata climbing, karena selain panorama alam disekitarnya dan cuaca yang sejuk,bambapuang juga menawarkan dinding yang menantang nyali para pecinta alamReadmore..

Alt img

Permandian Alam LEWAJA Kab. Enrekang

Lewaja adalah wisata alam di Kab.Enrekang yang menawarkan pesona alamnya yang masih sangat hijau,ditambah lagi dengan adanya air terjun yang sangat memukauReadmore...

ALT_IMG

DESA BEBAS ASAP ROKOK di Kab. Enrekang

Sebuah Desa yg menawarkan suasana berbeda yaitu Kawasan Bebas Asap Rokok. berkali mendapat penghargaan dan layak menjadi salah satu desa percontohan dibad ini, diakui dunia internasional Readmore...

ALT_IMG

KEBUN RAYA MASSENREMPULU ENREKANG

Kebun Raya Massenrempulu Enrekang terletak di Kec.Maiwa Kab.Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan sekitar 211 km dari Kotamadya Makassar,, atau kurang lebih 3 sampai 4 jam perjalanan menggunakan mobil. Kebun Raya Massempulu Enrekang adalah yang terbesar di IndonesiaReadmore...

Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam di Kab.Enrekang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam di Kab.Enrekang. Tampilkan semua postingan

KEBUN RAYA MASSENREMPULU ENREKANG

0 komentar
Di Jawa Barat ada Kebun Raya Bogor yang terkenal ke seluruh dunia, Sulawesi Selatan kelak akan terkenal dengan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang, di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang. Dikelola Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas Kehutanan Enrekang. Dibangun atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Enrekang dengan Lembaga Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kebun raya ini memiliki 99 jenis flora khas Sulawesi yang tengah dikembangbiakkan, beberapa di antaranya tanaman langka.
Pada Tanggal 14 Maret 2007 dilakukan Penanaman Perdana Koleksi Kebun Raya Enrekang oleh Bapak Bupati Kabupaten Enrekang Ir. Haji Latinro Latunrung bersama dengan unsur muspida Kabupaten Enrekang dan tanggal 14 Maret 2007 ditetapkan sebagai Hari Jadi KEBUN RAYA MASSENREMPULU ENREKANG, dibangun sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pariwisata.
Berawal  dari respon atas Surat Edaran Menteri Riset Teknologi No. 77/M/VIII/2004, dalam kutipan surat edaran menteri Riset dan Teknologi berbunyi ” Kepada Semua Gubernur agar propinsi yang ada di Indonesia memiliki Kebun Raya untuk melestarikan dan menyelamatkan tumbuhan asli disetiap daerah yang ada di Indonesia”.
Pengembangannya bertujuan untuk menjaga habitat flora khas Pulau Sulawesi, wisata alam, berkemah dan penelitian ini, sudah ramai dikunjungi warga dari Kab.Enrekang khususnya pelajar maupun dari luar Kab.Enrekang. Pohon-pohonnya sudah tumbuh dengan tinggi rata-rata 1-3 meter. Terletak 211 kilometer dari Makassar, kebun raya ini bisa menjadi yang terbesar di Indonesia, jika sudah tergarap maksimal yaitu seluas 300 hektar, dalam kurun waktu enam tahun terakhir telah mengoleksi 8.190 spesies tanaman, dan dari jumlah tersebut 1.709 spesies di antaranya adalah tanaman endemik asli Sulawesi.
Untuk dapat memanfaatkan Kebun Raya Enrekang secara maksimal, tidak hanya membutuhkan waktu yang cukup panjang, tapi juga membutuhkan dana yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp 600 miliar dengan Luas Lokasi 300 Hektar.

 Master Plan

Ini juga menjadi prestasi tersendiri bagi warga dan Pemerintah Kabupaten Enrekang yang mencanangkan menjadi salah satu Kota Agropolitan di dunia. Dibawah pimpinan Bapak Bupati Kab.Enrekang  Ir. H.Latinro Latunrung, sekarang telah mengalami banyak kemajuan dan banyak prestasi yang telah diraih baik pribadi maupun kolektif. Semoga apa yang dilakukan oleh beliau diakhir-akhir periode masa jabatannya bisa menjadi tolak ukur dan jangan dijadikan beban bagi para calon-calon penggantinya kelak.
Maju terus Massenrempulu……….

Kalo ada kesalahan informasi pada artikel ini tolong ditulis dalam kolom komentar, trim’s.

Diolah dari berbagai sumber
Continue reading →

Tempat Wisata Gunung BAMBAPUANG

0 komentar


Bambapuang adalah nama salah satu desa dimana tebing Bambapuang berada, secara administrative, Desa Bambapuang berada dalam wilayah Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Kondisi geografis Bambapuang adalah wilayah pegunungan yang didominasi oleh hamparan batu gamping yang membentuk bukit-bukit terjal.
Continue reading →

Wisata Gunung Nona (Buttu Kabobong) Di Kab.Enrekang

0 komentar


Kabupaten Enrekang merupakan salah satu alternatif daerah yang sebaiknya Anda kunjungi jika sedang berada di Sulawesi Selatan. Berbagai objek wisata alam dapat Anda nikmati saat melintasi daerah ini. Salah satunya keindahan Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini terkenal karena bentuknya yang unik,yakni menyerupai kelamin manusia. Gunung ini juga kerap disebut sebagai Gunung Nona.

Kabupaten yang terletak pada kilometer 196 dan kilometer 281 dari kota Makassar berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja pada sebelah utara,sebelah timur Kabupaten Luwu, sebelah selatan Kabupaten Sidrap dan sebelah barat Kabupaten Pinrang ini, menawarkan sebuah landscape cantik nan menakjubkan,yakni pegunungan yang sejuk dan pepohonan rindang yang tumbuh di kiri-kanan jalan, lembah berjejer yang membingkai kemegahan alam yang mana kesemuanya itu merupakan buah karya dari Sang Pencipta alam raya ini. Diantara pebukitan di Enrekang, terdapat satu gugusan lereng yang memiliki keunikan tersendiri yang oleh warga sekitar dinamai Buttu Kabobong.

Buttu berarti gunung sedangkan Kabobong berarti alat vital wanita. Masyarakat setempat,memberi julukan Buttu Kabobong sebagai gunung erotis, karena bila dilihat sekilas bentuknya memang tidak terlalu nampak. Tapi, bila diperhatikan dengan lebih seksama, barulah bentuk yang dimaksud itu akan tergambar lebih jelas. Buttu kabobong merupakan daerah dataran tinggi yang berada di desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja.
Kepengatan yang Anda alami saat melewati jalan menanjak dan berkelok-kelok kala melintasi daerah Enrekang, akan terasa hilang disaat anda menyempatkan diri singah sejenak beristirahat di warung mendate dan warung resting diseputaran gunung Buttu Kabobong,sambil menikmati nuansa alam yang indah dengan hembusan angin sejuk segar khas dari daerah yang juga dikenal sebagai penghasil buah Salak dan kentang.

Gunung Buttu Kabobong menjadi salah satu daya tarik obyek wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Enrekang,dan bagi Anda yang berminat untuk mampir sejenak sambil beristirahat diseputaran Buttu Kabobong, tersedia fasilitas penginapan yang dapat Anda pilih sesuai selera, diantaranya Bukit kenangan dan Bukit Indah.

Lokasi gunung Buttu Kabobong dapat ditempuh dengan jarak sekitar 16 km dari kota Enrekang arah utara menuju Tana Toraja. Iklim diseputaran pegunungan ini sangat dingin, kebanyakan tourist yang menuju Tana Toraja berhenti sejenak dibeberapa warung dan penginapan yang ada disekitar gunung Buttu Kabobong, hanya untuk menikmati pemandangan area pegunungan dan suguhan kopi Kotu atau penganan kue tradisional khas Masserengpulu dep’pa tetekan atau masyarakat Toraja biasa menyebutnya dep’pa Tori, kue yang terbuat dari tepung beras dicampur gula merah.
Saat ini Obyek wisata alam menjadi fenomena baru dalam dunia pariwisata kita (back to Natur), termasuk legenda-legenda jaman dahulu yang dipercaya dapat menjadi potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi,seperti pegunungan Tangkuban Perahu di Jawa Barat, sebongkah batu dipinggir pantai berwujud manusia sebagai sosok Malin Kundang di Padang, Sumatera Barat. Batu besar berbentuk kemaluan laki-laki dan batu berbentuk kemaluan perempuan di Kepulauan Riau, juga Gunung Buttu Kabobong yang ada di Enrekang, Sulawesi Selatan yang menyerupai kemaluan perempuan.
Tunggu apalagi segera atur jadwal anda untuk mengunjunginya...
Continue reading →

Wisata Sehat Bebas Asap Rokok di Kab. Enrekang

0 komentar

Desa Bone-Bone merupakan sebuah desa terpencil yang terletak di lereng Gunung Latimojong di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Kampung ini dihuni kurang lebih 801 jiwa yang menempati rumah-rumah panggung. Luas Desa sekitar 800 hektar. Kampung Bone-Bone termasuk ke dalam wilayah Desa Bone-Bone (Setelah dipecah dari Desa Pepandingan), Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Desa Bone-Bone berlokasi di kaki Gunung Latimojong, 1.500 meter dari permukaan laut. Kampung Bone-Bone terletak sekitar 300 kilometer sebelah utara Kota Makassar. Untuk mencapai kampung ini, dari Kota Makassar cukup melewati Ibukota Enrekang, kemudian menuju ke Kecamatan Baraka. Dari Kecamatan Baraka menuju ke Desa Bone-Bone, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua dengan jarak tempuh sekitar 50 kilometer.

Kampung ini sangat terkenal sebagai desa tanpa rokok di Kabupaten Enrekang. Suasana antirokok begitu terasa saat memasuki desa tersebut. Tanda larangan merokok langsung terpampang pada baliho besar tepat di gerbang masuk Desa Bone-Bone, Sejumlah papan berisi larangan merokok dan imbauan untuk menjaga kesehatan juga menghiasi sudut-sudut desa. Acara kumpul-kumpul pada malam hari yang biasa dihadiri pemuda dan bapak-bapak tetap berlangsung meskipun tanpa kepulan asap rokok. Mereka hanya mengenakan kain sarung untuk menangkal hawa dingin sambil menyeruput kopi hangat yang disajikan bersama pisang goreng.

Desa Bonebone, Kecamatan Baraka, di Kabupaten Enrekang (Sulsel) sudah layak masuk MURI, bahkan patut masuk museum Rekor Dunia. Betapa tidak. Mungkin inilah desa pertama di dunia yang menyatakan diri sebagai kawasan bebas rokok. Padahal desa yang terletak di lereng Gunung Latimojong pada ketinggian 1300 – 1500 meter dari permukaan laut tersebut tentulah daerah dingin. Biasanya orang merokok untuk mengatasi udara dingin itu.

Bagi para perokok, secangkir kopi panas biasanya belum cukup menghangatkan tubuh di daerah ketinggian yang berhawa dingin. Rasa menggigil seolah baru benar-benar sirna ketika merokok. Namun, sugesti itu mentah di kalangan warga Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang berlokasi di kaki Gunung Latimojong, 1.500 meter dari permukaan laut.

Suasana antirokok begitu terasa saat memasuki desa yang berpenduduk 801 jiwa tersebut. Tanda larangan merokok langsung terpampang pada baliho besar tepat di gerbang masuk Desa Bone-Bone, sekitar 300 kilometer sebelah utara Kota Makassar. Sejumlah papan berisi larangan merokok dan imbauan untuk menjaga kesehatan juga menghiasi sudut-sudut desa seluas sekitar 800 hektar itu.

Acara kumpul-kumpul pada malam hari yang biasa dihadiri pemuda dan bapak-bapak juga tetap berlangsung guyub meskipun tanpa kepulan asap rokok. Mereka hanya mengenakan kain sarung untuk menangkal hawa dingin sambil menyeruput kopi hangat yang disajikan bersama pisang goreng.

Pencanangan kawasan bebas asap rokok merupakan inisiatif Kepala Desa Bone-Bone Muhammad Idris (45) pada tahun 2000. Kala itu, ia prihatin dengan banyaknya anak-anak usia SD hingga remaja yang merokok. Pemahaman tentang bahaya merokok minim mereka dapatkan mengingat kebiasaan tersebut dilakukan orangtua pada umumnya.

 
Mantan loper koran yang lulusan IAIN Alauddin itu pun menuangkan program kawasan bebas asap rokok dalam peraturan dusun (Status Bone-Bone baru berubah menjadi desa pada tahun 2008). Meskipun secara tegas telah melarang penjualan rokok di dusunnya, ia masih mengizinkan warga merokok di dalam rumah. Hal ini untuk ”mengompromi” permintaan warga yang keberatan jika larangan merokok langsung diberlakukan di seluruh wilayah.

Setelah tahun 2003, warga tidak boleh lagi merokok di kawasan desa termasuk di rumah. Dalam kurun itu pula, setiap bulan, Idris bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang mengadakan penyuluhan tentang bahaya merokok bagi kesehatan.

Di sisi lain, toleransi juga berlaku bagi para pendatang saat awal mula penetapan kawasan tanpa rokok. Warga dari luar dusun diperbolehkan merokok selama tiga hari. Namun, mereka akan diminta pulang jika melanggar aturan tersebut. Saat ini pendatang sama sekali tak diperkenankan merokok jika berkunjung ke Desa Bone-Bone.

Secara bertahap, aturan larangan merokok juga disertai dengan sanksi. Warga yang ketahuan merokok di kawasan desa wajib terlibat dalam kegiatan untuk kepentingan umum, seperti pembenahan jalan rusak, pembangunan fasilitas umum, dan pembersihan jalan. Sanksi ini dinilai cocok untuk mendidik warga ketimbang denda berupa uang tunai..

Menurut Idris, upaya mengawasi perilaku warga desa sejauh ini relatif lancar. Kondisi geografis desa yang terletak di dataran tinggi membuat bau asap rokok dapat tercium hingga radius sekitar 200 meter. ”Saya juga tidak khawatir jika ada warga yang nekat merokok di dalam rumah karena anggota keluarga ikut mengontrol,” ungkapnya.

Idris bersama warga juga menyepakati sejumlah aturan lain yang dibuat demi kemajuan desa. Sejak tiga tahun lalu, warga yang ingin menikah wajib menanam minimal lima bibit pohon surian (Toona sureni) di lahan masing-masing. Hal ini bertujuan menjaga kelestarian kayu surian yang biasa digunakan warga setempat sebagai bahan bangunan rumah.

Upaya yang telah dilakukan warga Desa Bone-Bone mulai menginspirasi beberapa desa di Enrekang, seperti Kendenan dan Kadinge. Kedua desa itu sudah mengukuhkan diri sebagai kawasan tanpa rokok sejak beberapa bulan lalu. Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung, juga berencana memunculkan desa bebas asap rokok lain di Kecamatan Ala dan Anggeraja mulai tahun depan.

”Saya berharap desa lain mengikuti apa yang telah dilakukan warga Desa Bone-Bone,” ujar bupati yang berhenti merokok sejak tiga tahun lalu ini. Pencapaian warga Bone-Bone ini terpilih sebagai salah satu praktik cerdas yang ditampilkan yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dalam Forum KTI V awal November lalu di Ambon, Maluku.

Apa yang telah dilakukan Idris dan kawan-kawan sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Surabaya sudah lama mendambakan kawasan tanpa rokok di wilayah masing-masing. Namun, warga Desa Bone-Bone menunjukkan bahwa itu hanya dapat dicapai dengan kepemimpinan yang kuat dan komitmen bersama.

”Seha’ki yake e’da ta mappelo’ mane (Tidak merokok itu sehat, Saudara)!”
 “Sebagian besar  dari Kita baru merasakan telah  diberi Nikmat, Saat kenikmatan tersebut diambil kembali oleh sang pemberi nikmat “ALLAH”".

Continue reading →